About Me

header ads

Gerakan Perempuan dalam Konflik Agraria


Oleh : Habsyah Fitri Aryani , Sekretaris Kopri PKC PMII Jawa Teng

 

Sebagai sebuah simbol kemerdekaan, tanah bagi petani adalah sumber kesejahteraan baik secara ekonomi, sosial dan budaya. Tanah di Indonesia dikenal dengan kesuburannya. Bahkan dalam sebuah bait disebutkan “orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman”. Sebagai tanah surga, Indonesia terancam menjadi negara pengimpor bahan pangan dunia apabila tanah sebagai media lahan pertanian secara bertahap berkurang dan beralih fungsi dalam rangka pembangunan.


Berbagai program alih fungsi lahan di Indonesia acapkali ditemui. Alihfungsi oleh pemerintah indonesia di beberapa lokasi dijadikan sebagai proyek strategis nasional. Salah satunya berlokasi di wadas, kecamatan bener, kabupaten purworejo, Jawa Tengah. Di desa wadas rencananya akan dibangun bendungan sehingga perlu dilakukan penambangan untuk bahan baku proyek bendungan.


Sengkarut rencana strategis nasional ini sudah mulai dari tahun 2021 silam. Tapi hingga kini masih menjadi konflik dengan diwarnai bentrok antar warga dengan aparat kepolisian. Singkatnya banyak masyarakat sekitar wadas yang tidak merestui pembangunan bendungan tersebut.


Perlawanan diwarnai dengan kriminalisasi sudah banyak dilaporkan oleh media massa hingga video durasi pendek yang bertebaran menunjukkan situasi perlawanan. Pada april 2021 silam yang juga diberitakan oleh rmol.id tertanggal 25 april, perempuan yang tergabung dalam wadas melawan terlibat aksi ricuh serta tarik menarik dengan kepolisian setempat. Aksi ricuh kembali terulang pada 8 februari 2022 pada saat akan dilaksanakan pengukuran lahan. Pengukuran lahan yang membawa puluhan personil polisi tersebut berujung penangkapan sejumlah warga.


Yang terjadi di Wadas adalah bentuk dari konflik agraria. Liandra (2014) menyebutkan bahwa konflik agraria terjadi akibat adanya perbedaan nilai tentang bagaimana penggunaan terbaik terhadap tanah tersebut. Perbedaan nilai antara masyarakat wadas yang menolak dengan pemerintah yang direpresentasikan oleh aparat kepolisian. Masyarakat Wadas menilai bahwa tidak ada urgensi dari pembangunan bendungan tersebut dan justru akan merusak lingkungan serta menghilangkan banyak sumber mata air.


Aktor yang terlibat dalam sebuah konflik agraria antara lain petani, masyarakat, swasta, pemerintah, dan khususnya perempuan. Konflik agraria yang berdampak kerusakan lingkungan memicu perempuan untuk turut serta melakukan penolakan hingga perlawanan dengan narasi perempuan. Narasi perempuan dalam gerakan wadas melawan juga ditunjukkan dengan gerakan menghadang aparat polisi yang hendak mengamankan wilayah calon bendungan bener. Perempuan Wadas berkumpul dengan duduk bersama membaca sholawat sembari menghalau jalan.


Konflik agraria yang terjadi, umumnya perempuan lebih memiliki kepedulian terhadap kerusakan lingkungan dibandingkan para laki-laki (Nila, 2017). Cara perempuan dan laki-laki dalam berinteraksi serta bersikap melahirkan relasi terhadap sumber daya alam yang berbeda. Laki-laki bertindak lebih menekankan kepada hak-hak agar setiap orang diperlakukan dengan sama. Sedang perempuan berinteraksi dengan lingkungan mengutamakan kemampuan, proses dan pengalaman yang bersifat partikular sehingga melahirkan tindakan tanpa kekerasan yang fokus pada substansi dan tanggungjawab.( Atmadja, 2013).


Berdasarkan teori ekofeminisme dalam pengelolaa lingkungan saat ini terdapat relasi kuasa yang tidak adil dan relasi dominasi dalam wacana lingkungan hidup dan wacana perempuan. Padahal perempuan memiliki peran dalam penyelamatan lingkungan di berbagai belahan dunia. Dalam peran tersebut, perempuan sebagai agen yang memediasi hubungan hukum antara manusia dengan elemen pemberi kehidupan dan mengajarkan penghormatan kepada kesatuan serta kesinambungan dari keseluruhan kehidupan dengan gaya hidup yang eco-friendly dan women-friendly. (Astuti, 2012).


Sikap perempuan wadas yang menolak pembangunan bendungan merupakan cerminanan dari gerakan ekofeminisme. Hubungan erat antara perempuan dan alam sering kali dimitoskan sebagai alam itu sendiri. Mengingat peran sentral perempuan dalam konstruksi gender sebagai pemelihara. Perempuan berperan untuk memelihara rumah tangga, alam membantu perempuan untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Sehingga apabila alam rusak, maka ketahanan fungsi pemeliharaan perempuan dalam rumah tangga juga terganggu.


Peran aktif perempuan dalam konflik agraria seperti yang dilakukan oleh perempuan Wadas terbukti mematahkan stereotype kepada perempuan yang identik dengan area domestik dan pasif. Selain itu menurut Yuliandrianto (2016) gerakan perempuan yang aktif dalam konflik agraria juga merepresentasikan aktifitas politik melawan eksploitasi lingkungan. Hingga pada akhirnya gerakan perempuan tersebut menunjukkan bahwa perempuan memiliki narasi alternatif bahwa pengelolaan sumber daya alam mampu dilaksanakan menggunakan cara non-eksploitatif berdasar pengalaman perempuan yang bersifat inklusif melalui pendekatan kultural. Sudah barang tentu menyikapi konflik wadas, perempuan harus bergandeng tangan dan membangun aksi solidaritas.

 

 

 

 

 

 

Posting Komentar

0 Komentar