About Me

header ads

Pengertian Poligami dan Dasar Hukum Berpoligami

 
Jiwa Santri - Poligami secara etimologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu polus yang berarti banyak dan gamos yang berati Perkawinan. Bila pengertian ini di gabungkan, maka pengertian Poligami akan berarti suatu perkawinan yang banyak atau lebih dari seorang. Sistem perkawinan bahwa seorang laki–laki mempunyai lebih dari seorang istri dalam waktu yang bersamaan, atau seorang perempuan mempunyai suami lebih dari seorang dalam waktu yang bersamaan, pada dasarnya di sebut poligami [1].
Pengertian Poligami menurut bahasa Indonesia, adalah sistem perkawinan yang salah satu pihak memiliki/ mengawini beberapa lawan jenisnya di waktu yang bersamaan.

Para ahli membedakan istilah bagi seorang laki–laki yang mempunyai lebih dari seorang dengan istilah poligini yang berasal dari kata polus berarti banyak dan gune berarti perempuan. Sedangkan bagi seorang istri yang mempunyai lebih dari seorang suami disebut poliandri yang berasal dari kata polus yang berarti banyak dan andros berarti laki-laki (Zakiah darajat, Membna nilai – nilai Moral di Indonesia (Jakarta : Bulan Bintang, 1985) hlm. 17)

Jadi seharusnya kata yang tepat bagi seorang laki-laki yang mempunyai istri lebih dari seorang adalah poligini bukan poligami. Namun menurut pandagan masyarakat umum di Indonesia adalah poligami.[2]
 

Dasar Hukum Poligami


Islam membolehkan Poligami dengan jumlah wanita yang terbatas dan tidak mengharuskan umatnya melaksanakan monogami mutlak dengan pengertian seorang laki–laki hanya boleh beristri seorang wanita dalam keadaan dan situasi apa pun dan tidak pandang bulu apakah laki-laki itu kaya atau miskin, hiposeks atau hiperseks, adil atau tidak adil tidak adil secara lahiriyah. Islam pada dasarnya menganut sistem monogami dengan memberikan kelonggaran dibolehkannya poligami terbatas.
 
Pada prinsipnya, seorang laki-laki hanya memiliki seorang istri. Tetapi islam tidak menutupi diri adanya kecendrungan laki-laki beristri banyak sebagaimana yang sudah berjalan dahulu kala. Islam tidak menutup rapat kemungkinan adanya laki-laki tertentu berpoligami, tetapi tidak semua laki-laki harus berbuat demikian karena tidak semuanya mempunyai kemampuan untuk berpoligami. Poligami dalam islam di batasi dengan syarat-syarat tertentu, baik jumlah maksimal maupun persyartan lain seperti:
  1. Jumlah istri yang boleh dipoligami paling banyak empat orang wanita. Seandainya salah satu di antaranya ada yang meninggal atau diceraikan, suami dapat mencari ganti yang lain asalkan jumlahnya tidak melebihi empat orang dalam waktu yang bersamaan terdapat pada surat An-Nisa’ ayat 3
  2. Laki-laki itu dapat berlaku adil terhadap istri-istri dan anak-anaknya, yang menyangkut masalah-masalah lahiriah seperti pembagian waktu jika pemberian nafkah, dan hal-hal yang menyangkut kepentingan lahir. Sedangkan masalah batin, tentu saja, selamanya manusia tidak mungkin dapat berbuat adil secara hakiki.

Sedangkan poligami didalam PP. No.45 Tahun 1990 ayat 1 menjelaskan degan kalimat menikah lebih dari seorang dan begitu pula UU. No. 1 Tahun 1974 tentang pernikahan yang termaktub dalan Kompilasi Hukum Islam (KHI), tidak menyebutkan langsung kata poligami, namun degan istilah menikah lebih dari satu orang. Jadi pada dasarnya UU berusaha metiadakan istilah Poligami


[1] Tihami H.M.A, Sahrani Sohari, Op.cit, hlm. 351
[2] Ibid, hlm. 352

Sumber artikel: STUDI KOMPARASI PRAKTEK POLIGAMI PNS DI BADAN KEPEGAWAIAN DAERAH DAN PENGADILAN AGAMA KABUPATEN JEPARA (Analisis PP. No.45/1990 dengan UU No. 1 Tahun 1974) yang di cantumkan dalam Kompilasi Hukum islam mengenai Poligami. 
Karya M. Nur Ikhsan (Lulusan FSH UNISNU Jepara)

Posting Komentar

0 Komentar