About Me

header ads

Begini Sebenarnya Mati Syahid Dijalan Allah

Tata Cara Mati Syahid, Mati Sahid, Mati di Jalan Allah
Niswa Hasanah*
Jiwa Santri - Kata syahidah asal mulanya dari bahasa arab (Islam) yang mempunyai makna Yang hadir, Saksi, Pintar, Mati Syahid. Kata syahidah boleh digunakan selama arti syahidah tidak berkonotasi negatif di lingkungan.

Dari beberapa arti tersebut, seseorang meninggal dalam keadaan syahid adalah keistimewaan tersendiri serta dimuliakan oleh Allah. Banyak orang yang menginginkan meninggal dalam keadaan syahid atau syahidah. Sebab Allah berjanji, bagi mereka yang mempunyai hati ikhlas dalam beribadah dan menuntut ilmu, bila tiba kematiannya Allah akan memuliakannya. Disini banyak manusia yang mengharap agar meninggal dalam keadaan syahid / syahidah tapi semua menjadi rahasia Illahi.

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un, seorang mahasiswi berasal dari Indonesia dan merupakan mahasiswi 3 tahun Syariah Islamiyah di Universitas Al Azhar dengan berpewatakan cukup sederhana dan biasa. Rajin membantu sahabat-sahabat dikala susah, kurang terkenal dan pendiam. (dikatakan “Lilis Fauziyah” salah satu sahabat di Indonesia).

Setiap petangnya, beliau selalu pergi ke Masjid Al Asyrof dan ifthor (buka puasa) disana, karena beliau ingin menghidupkan malam-malam Ramadhan dengan tarawih, majelis ilmu, dan qiyamullail, bersama dengan Syekh Yusri Hafidzahullah. Namun Allah lebih menyayanginya, pada petang 13 Ramadhan sewaktu beliau dalam perjalanan hendak ke Masjid, beliau telah ditabrak oleh sebuah truk besar lantas meninggal dunia ditempat kejadian.

Dan hari itu menjadi saksi, sungguh ramai yang mendoakanmu, jenazahmu sendiri disholatkan oleh ribuan orang setelah selesai sholat jum’at sebagian dari orang-orang sholeh segenap penjuru dunia di kalangan penuntut ilmu. Bahkan sekarang qo’ah tempat belajar di muqottam diberi nama ”Syahidah FatihatunNahdhiyah” karena beliau sering belajar di muqottam dengan teman-temannya. Banyak orang yang mencemburui atas meninggalnya beliau karena begitu indahnya perjalanan hidup yang dipenuhi dengan berbagai hal yang bermanfaat mulai dari ucapan, perbuatan, dan masih banyak lainnya. Beliau bukan hanya sekedar perempuan biasa, namun istimewa di depan manusia dan Allah. Dan beliau mendapat perlakuan khusus yaitu:

Khusus jenazah yang mati syahid/syahidah ada 2 hukum khusus:

  1. Tidak boleh dimandikan, Jenazah ini dibiarkan sebagaimana kondisi dia meninggal, sehingga dia dimakamkan bersama darahnya yang keluar. 
  2. Boleh tidak dishalatkan . Artinya, jenazah korban, perang fi sabilillah tidak wajib dishalatkan.

Namun beliau di sholatkan bahkan lebih dari satu kali, serta di sholatkan para masyayikh ini merupakan keistimewaan yang tidak bisa di dapatkan oleh sembarang orang.

Macam-macam Syahid/Syahidah:


Dalam kitab ‘At-Taudhih’ disebukan orang yang mati syahid ada 3:
  1. Syahid dunia dan akhirat, merekalah yang terbunuh karena sebab apapun di medan perang melawan orang kafir.
  2. Syahid akhirat, namun hukum di dunia tidak syahid. Mereka adalah orang yang disebut syahid, namun meninggal di selain medan perang.
  3. Syahid dunia, dan bukan akhirat. Dia adalah orang yang meninggal di medan jihad, sementara dia terbubuh ketika lari dari medan perang atau sebab lainnya.

Ada ulama yang berbeda pendapat tentang alasan mengapa mereka disebut syahid/syahidah. Berikut diantaranya:
  • Karena orang yang mati syahid hakikatnya masih hidup, seolah ruhnya menyaksikan, artinya hadir. (An Nadhr bin Syumail).
  • Karena Allah dan malaikat bersaksi bahwa dia ahli surga. (Ibn Anbari).
  • Karena ketika ruhnya keluar, dia menyaksikan bahwa dirinya akan mendapatkan pahala yang dijanjikan.
  • Karena disaksikan bahwa dirinya mendapat jaminan keamanan dari neraka.
  • Karena ketika meninggal tidaka ada yang menyaksikannya kecuali malaikat penebar Rahmat.

Untuk orang yang berstatus syahid dunia, namun bukan meninggal akhirat, karena ketika dia meninggal, kaum muslimin menyikapinya sebagaimana orang yang meninggal di medan perang, jasadnya tidak dimandikan. Semoga kita semua tergolong orang-orang yang di muliakan oleh Allah swt. Amiiinnn.

Penulis: Niswa Hasanah (Mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Islam Nahdlatul Ulama' Jepara)

Posting Komentar

0 Komentar