About Me

header ads

Melawan Pasar Bebas Ustadz di Era Sosial Media


 
Jiwa Santri - Sosial media pada belakangan ini menjadi tempat yang paling ngetren untuk membagikan keluh kesah maupun cerita pengalaman setiap hari. Asik bener kalau menggunakan sosial media, sebab kita dapat menjelajahi setiap tempat kemudian membagikan pada sosial media. Wes pokonya asliklah kalau menggunakan sosial media. Terlebih kalau kita mendapatkan informasi baru setiap hari, sehingga kita semakin rajin untuk bersosial media.

“Digital Around The World 2019” melaporkan dan merilis sebanyak 150 juta orang di Indonesia menggunakan sosial media. Lebih lanjut, data yang mengejutkan lagi adalah setiap orang memiliki 11 akun berbagai sosial media sosial. Artinya data tersebut menyebutkan setengah dari masyarakat Indonesia telah menggunakan sosial media untuk kegiatan sehari-hari.

Siapa sangka hadirnya sosial media memiliki dampak yang cukup pesat untuk perkembangan bermasyarakat di Indonesia. Ada yang memanfaatkan sosial media hanya untuk menceritakan kegiatan sehari-hari. Ada pula yang menggunakan sosial media untuk meraup rejeki, serta ada pula yang menggunakan sosial media untuk belajar dari para ustadz ngetren. Berkeliarnya beberapa orang yang bermain sosial media kemudian di panggil dengan ustadz membuat beberapa orang mengikuti untuk belajar agama.

Celakanya ada beberapa orang yang belum paham tentang agama kemudian belajar tentang ajaran agama dengan ustadz ngetren. Ustadz ngetren (bilang saja follower banyak) belum sepenuhnya kita ketahui asal muasal tentang orang tersebut. Terlebih lagi, kalau ustadz yang ngetren di sosial media lebih menjadi acuan ketimbang para ulama’-ulama yang selama ini menjadi panutan. Padahal ada pula beberapa orang di panggil ustadz hanya memiliki pengikut yang banyak. Secara keintlektual ustadz sosial media masih jauh dari para ustadz maupun kyai yang membimbing masyarakat selama ini.

Lebih dekat dengan ustadz atau ulama yang di sosial media perlu dilakukan untuk memberikan kepaham pada diri kita. Mustofa Bisri atau yang sering disapa Gus Mus mengklasifikasikan ulama ada beberapa (saat diwancarai di Talk Show Mata Najwa) ada lima yaitu Produk Masyarakat, Produk Pers, Produk Pemerintah, Politis dan Bikinan sendiri.

Pertama, Ustadz atau ulama Produk Masyarakat. Gelar ulama ini di sematkan seseorang karena dari segi keilmuwan dan tingkah lakunya maka ia disebut Ulama'. Kedua, Ustadz atau ulama Produk Pers, Gelar Ulama ini di miliki karena seseorang sering tampil di media. Ketiga, Ustatd atau ulama produk Pemerintah, Gelar Ulama ini dimiliki karena masuk dalam salah satu organisasi pemerintahan. Keempat, Ulama atau ustadz produk Politis, Gelar Ulama' ini di sematkan pada seseorang demi meningkatkan suara pada elektoral orang tertentu. Kelima, ustadz atau ulamaa produk Bikinan Sendiri, Gelar Ulama ini karena ia menghafalkan beberapa ayat kemudian diceramahkan pada orang lain sehingga ia menyebut dirinya sebagai ulama'.

Meramaikan Pasar Bebas Ustadz

Demi mengimbangi pasar bebas ustadz jadi-jadian di media sosial merupakan tugas yang sangat berat bagi Usdadz atau ulama Moderat. Sebab, perlu adanya manajemen yang cukup tertata untuk mendapatkan follower yang banyak dan konten-konten yang disukai masyarakat. Kebiasaan dari ustadz yang memiliki keilmuwan jelas selama ini tausiyah selalu panjang lebar. Sehingga, banyak masyarakat yang bosan untuk menyimaknya. Peluang inilah diambil oleh para ustadz yang berlatar belakang kurang jelas untuk mengambil hati masyarakat dengan konten menarik dan cukup singkat. Manajemen konten berdakwah perlu ditata untuk melawan ustadz abal-abal yang selamaa ini beredar pasar bebas ustad di era sosial media.

Pengguna media sosial media waras harus melawan, inilah salah satu cara yang dapat dilakukan bagi kita yang memiliki pemahaman usdaz-ustadz yang harus di ikuti. Kalau masyarakat waras hanya diam, maka ustadz-ustad abal-abal semakin menjadi-jadi sehingga mereka leluasa memberikan informasi yang salah pada masyarakat. Perlawan yang bisa dilakukaan dengan cara-cara simpel, dengaan ikut menyebar luaskan konten-konten ustadz maupun ulama yang jelas ke sosial media yang kita miliki. Sehingga masyarakat pun lebih mengetahui siapaa yang haru di ikuti dan siapa yang harus mulai ditinggal sejak kini.

Secara simpelnya kalau ingin belajar pada ustadz atau ulama’ sesungguhnya mari kita belajar pada selama ini membimbing kita. Misalnya di organisasi masyarakat Nahdlatul Ulama telah merilis beberapa ustadz yang harus di ikuti oleh masyarakat yang bermain sosial media.



Penulis

Muwasaun Niam
Ketua Pengurus Cabang PMII Jepara
Priode 2017-2018

Posting Komentar

0 Komentar